2/15/07

[Inspirasi] Bisnis Migas di Indonesia

Saya jadi ingat dengan p'taufan,
jadi tidak ada yang ga mungkin kan?5 juta => jadi US$ 92 juta

Bisnis Migas di Indonesia masih banyak dikuasai oleh para pemain asing, seperti di sektor hulu (pengeboran minyak mentah) ada Chevron (dulu caltex di riau & unocal di kalimantan timur), ada BP (di west java, dan sekarang di LNG tangguh, Papua), ada Total Indonesie ( dikalimantan timur), Vico (di kalimantan timur), sekarang tambah masuk dari china seperti Petrochina (disumatera bagian selatan), CNOOC (china national oil corporate), Amerada Hess (dijawa timur), ConocoPhillips (di Natuna, Kep.Riau), Exxonmobil (diaceh & cepu), ENI (corporate dari italy, dikaltim), PremierOil (British, di Natuna)...

di hilir memang tidak terlalu banyak, ada Shell & Petronas.
sektor oli, nyaris dikepung oleh produk-produk dari BP (Castrol), Total (Esso), Chevron/Caltex(Havoline, CMIIW), Top One (USA, CMIIW), Shell, etc.

sektor hulu kita hanya punya Pertamina, MedcoEnergi, yang bisa dibanggakan. Pemain baru seperti EMP (Energi Mega Persada), bakrie groups, masih harus banyak belajar dan berhati-hati, karena bisnis di MIGAS, high risk, kasus lapindo adalah contoh kasus-nya.

sektor hilir, kita sudah terbiasa dengan POM bensin Pertamina, kini sudah ada Shell dan Petronas.

Oli kita hanya punya Oli Pertamina. selain itu, industri/bisnis pendukung disektor migas ini cukup banyak, ada supplier/vendor equipment & material, ada engineering consultant, EPC (engineering, procurement & construction) Contractor, ada Fabrikator, bahkan industri jasa SDM pun bermunculan disektor ini ada Man Power Supply (MPS), catering, Maintenance Services, Transportation Services

Jadi? Apakah kita mau menjadi penonton selama-nya?


@rd.


source: http://www.swa.co.id/swamajalah
Perjodohan yang Sukses di Bisnis Migas
Kamis, 01 Februari 2007 Oleh : Eva Martha Rahayu
Bermula dari usaha distributor oli di garasi rumah dengan modal pinjaman Rp 5 juta, Dewo-Agus berhasil menggelindingkan bisnis migas beromset US$ 92 juta lebih.

Bagaimana lika-likunya? Ibarat pasangan suami-istri yang mampu memadukan kekuatan masing-masing, perjodohan antara Pramono Dewo dan Agus Riyanto dalam berbisnis sukses melambungkan Djava Energy. Holding lima perusahaan yang mereka kibarkan akhir 2005 itu mampu membukukan omset di atas US$ 92 juta/tahun atau setara Rp 837,2 miliar (kurs Rp 9.100/US$) dan menghidupi 500 karyawan.

Pramono Dewo sebenarnya telah menggeluti dunia bisnis selama 10 tahun lebih. Ceritanya diawali pada 1993. "Saat itu saya buka usaha distributor oli di garasi rumah orang tua dengan bendera PT Natura Bina Mitra. Modalnya hanya Rp 5 juta dan dibantu seorang karyawan," tutur Dewo, sapaan akrabnya. Boleh dikata ia cukup berani melakukan debut bisnisnya kala itu mengingat ia masih berstatus sebagai profesional di PT Hyundai Heavy Industries (1991-97).

Di perusahaan asing asal Korea Selatan yang membidangi pembuatan rig lepas pantai ini, jabatan terakhirnya adalah vice president. Beruntunglah, Dewo bisa membagi waktu antara perannya sebagai wirausaha dan karyawan. Alhasil, dua peran yang berlawanan itu bisa ia lakoni hingga empat tahun. "Saya berani nyambi karena ingin mengembangkan diri. Sebab, jika saya hanya berpikir jadi karyawan, bisa-bisa jadi karyawan abadi. Apalagi, perusahaan Korea terkenal pelit, licik dan keras.

Tapi, perusahaan tersebut mengajarkan banyak hal kepada saya, terutama soal kedisiplinan," ungkap pria kelahiran Jakarta, 30 Juni 1967, itu.Seiring dengan perputaran waktu, Natura yang semula menekuni bisnis distributor oli Conoco belakangan lebih mantap menggarap bisnis jasa pendukung minyak bumi dan gas, antara lain pengadaan SDM migas, pipa atau security. Nah, tak puas dengan punya satu perusahaan, 9 tahun kemudian (2002) Dewo membidani kelahiran PT Gas Petroleum Niaganusantara. Gas Petroleum bergerak di transportasi industri perminyakan, seperti truk, tangki dan alat berat. Gas Petroleum ditangani Dewo lebih serius karena ia tidak merangkap lagi sebagai eksekutif perusahaan asing asal Kor-Sel itu.

Rupanya, tanpa disadari Dewo, dalam menapaki hari-hari bisnisnya yang sibuk, ada relasinya yang satu visi dan misi dengannya. Sosok itu adalah Agus Riyanto, pengusaha yang berkecimpung di dunia perminyakan hilir di bawah payung PT Petrolube Niaga Andalas.

"Visi kami membentuk perusahaan energi yang punya reputasi tinggi, komitmen dan reliable," kata Agus, kelahiran Jakarta, 36 tahun lalu. Sementara itu, misi yang mereka emban adalah memiliki organisasi bisnis yang mampu menerjemahkan visi dan disesuaikan dengan kondisi pasar.Tak dinyana, pertemuan keduanya di Singapura itulah yang menjadi tonggak bersejarah menandai niat mereka untuk sepakat menggelindingkan perusahaan baru di bidang migas pula.

Dari perkawinan bisnis Dewo-Agus itulah, lahir dua perusahaan anyar. PT Petromine Energy Trading (Petromine Jakarta) yang berkedudukan di Jakarta lebih dulu ditetaskan, tahun 2005. Perusahaan ini berkutat dalam bisnis perdagangan minyak mentah. "Mungkin Petromine ini perusahaan perdagangan minyak mentah terbesar kedua yang dimiliki orang Indonesia," ujar Dewo mengklaim dengan bangga. Lalu, lahir anak usaha kedua dari hasil perkawinan tadi, yaitu Petromine Energy Trading Pte. Ltd. (Petromine Singapore), di Singapura. "Nah, untuk mewadahi tiga anak perusahaan yang kami miliki sebelum merger sekaligus dengan dua perusahaan baru pascamerger, kami setuju membentuk holding dengan label Djava Energy pada akhir 2005,"

Agus menambahkan.Duet Dewo-Agus merupakan pasangan bisnis yang klop. Dewo dikenal sebagai orang yang lama di bisnis hulu migas (upstream), sedangkan Agus lebih banyak bermain di hilir (downstream). Pembagian tugas keduanya pun saling melengkapi. Dewo yang dipercaya sebagai CEO lebih banyak mengurusi frontliner perusahaan, umpamanya mencari pasokan minyak mentah. Sementara Agus yang didapuk sebagai chairman bertugas mengelola operasional perusahaan, khususnya perencanaan bisnis, strategi dan pemasaran minyak ke luar negeri.

Menurut Dewo, sebelum Agus bergabung, aset perusahaan milik Dewo saja masih Rp 4-5 miliar. Dengan masuknya Agus, terjadi perkawinan perusahaan dan lahir dua perusahaan baru dengan total aset US$ 1,5 juta. Selain di Jakarta, Djava Energy juga memiliki kantor cabang di Bojonegoro, Medan dan Singapura.Kalau dipilah, bisnis Djava Energy di hulu terdiri atas Natura dan Gas Petroluem. Di migas hilir meliputi Petrolube untuk oli, Petromine Jakarta untuk solar plus aspal, serta Petromine Singapore untuk perdagangan minyak mentah. Diakui Dewo, kontribusi pendapatan terbesar dari kelima perusahaan tadi disumbang penjualan minyak mentah di Singapura.

Mengapa? "Karena, nilai kontrak transaksi bisnisnya cukup gede," ujar lulusan MM Universitas Trisakti itu. Mayoritas lokasi sumber minyak yang digarap Djava Energy ada di Jawa Timur, yaitu lapangan Sukowati dan Mudi. "Rencananya, kami juga akan masuk ke Jawa Tengah dan Sumatera Selatan," ujar Dewo. Kini mereka menggarap sumur minyak di Lapangan Waleo, Papua, hasil kerja sama dengan Petrochina.

Pada saat awal menggerakkan roda bisnisnya, Dewo memang mengalami beberapa kendala. "Klien ragu apakah dua anak kecil seperti kami ini bisa membawa minyak senilai puluhan juta dolar. Jadi, memang sulit mendapatkan kepercayaan klien," ungkap Dewo lalu menyambung, klien perdana yang berhasil ditaklukkan adalah Pertamina.

Selain ketidakkepercayaan pembeli, mereka juga dihadapkan pada masalah yang datang dari pihak bank. Mengapa? "Kalau saya buka letter of credit senilai US$ 25 juta sekali transaksi, misalnya, pihak bank kerap meragukan kami. Mereka tanya apa benar kami punya duit segitu. Jadi, kami juga mesti dapat trust dari pihak bank," ungkapnya. Hambatan lainnya, ketika menjadi importir minyak, mereka sulit memasarkannya di dalam negeri.

Walaupun Djava Energy tergolong perusahaan baru di bisnis migas, omset yang dicetak membuat kita terbelalak. Asal tahu saja, omset setahun dari akhir 2005-06 tercatat US$ 59 juta dan 2007 ditargetkan US$ 200 juta. "Kami optimistis target itu akan tercapai. Sebab, sekarang saya sudah membukukan omset US$ 92 juta," kata Agus, lulusan Teknik Industri Universitas Trisakti. Tentu saja, omset sebesar itu diraih dari kepercayaan klien-kliennya, sebut saja: BP, Exxon, Unipack (Cina) dan Pertamina Trading Oil (Petra), sebagai pelanggan minyak mentahnya.

Bagaimana strategi pemasarannya?
Sejatinya, dikatakan Agus, pola pemasaran Djava Energy tidak ada yang istimewa. "Pokoknya, kami membuka akses ke segala arah pemasaran," katanya. "Biasanya yang ditanyakan calon buyer adalah benar atau tidak kami punya barang. Lalu, kami bisa komit nggak. Untuk membuktikan keraguan itu, tidak ada cara lain kecuali kami bekerja dengan profesionalisme tinggi."

Kendati membukukan omset tinggi, Dewo tak berharap bakal menangguk untung berlimpah. Maklum, menurutnya, margin bisnis migas tipis. "Untuk minyak mentah, nett margin 1%-1,5%.

Padahal, revenue terbesar tetap dari minyak mentah," ujarnya. Sementara itu, Natura yang berkontribusi 25%-30% ke pendapatan, nilai proyeknya kecil, US$ 4,7 juta/tahun. "Tapi, semua harus saya jalani, karena ini bisnis dari hulu ke hilir. Tujuannya, bila ada salah satu perusahaan yang bermasalah, kami tidak terpukul," ungkapnya lagi. Selain bisnis yang bergerak di migas, Dewo juga punya bisnis lain, di antaranya biro perjalanan umroh dan haji serta label musik.

Seperti jamaknya pebisnis, perjalanan Dewo-Agus pun tak luput dari suka dan duka. "Sukanya, kalau banyak dapat kontrak dari klien," kata Dewo. Dukanya? "Rupanya tidak semua perusahaan asing komit terhadap perjanjian yang dibuat. Bisa saja tiba-tiba kantor pusat PMA tadi membatalkan. Ini menyulitkan kami." Risiko rugi juga menjadi masalah biasa bagi Djava Energy.

Dewo mencontohkan, jika pihaknya punya komitmen beli minyak di harga A, tapi kemudian tiba-tiba harga minyak dunia turun di angka B. "Sekarang sulit memprediksi harga minyak karena banyak anomali. Misalnya, biasanya waktu musim dingin harga minyak naik, tapi faktanya beberapa waktu lalu tidak naik," katanya. Belum lagi risiko perubahan rumus Indonesia Growth Price Index yang dilakukan Departemen Energi & Sumber Daya Mineral.

Akibatnya, harga minyak Djava Energy bisa kemahalan atau anjlok.Kendati demikian, tak ada kebimbangan sedikit pun di hati Dewo-Agus untuk terus mengatrol perusahaannya di tengah kompetisi yang sengit dengan perusahaan lama yang telah eksis. "Karena punya komitmen dalam suka dan duka, kami siap menghadapi segala tantangan," ujar Dewo. Sejauh ini, ia mengaku, lebih banyak menjumpai orang yang hanya mau terima enaknya dengan perjanjian bisnis yang telah disepakati. Boleh jadi, itulah secuil rahasia suksesnya. "Aku ini bukan anak siapa-siapa. Bukan turunan orang kaya dan hanya modal dengkul dalam bisnis," ujarnya merendah. Dewo benar, ia membesut usahanya dari nol hingga sukses seperti sekarang.

Ucapan Agus memperkuat pernyataan Dewo. "Kami berkembang dengan jerih payah dan kerja keras sendiri. Bukan dari fasilitas atau dukungan kroni," katanya.Namun, langkah Dewo menginjakkan kaki di dunia perminyakan sudah diperhitungkan dengan matang. Ia terpincut masuk ke bisnis licin itu karena tiga hal. Pertama, dunia minyak termasuk industri yang paling tahan terhadap perubahan kondisi ekonomi di Indonesia dan bisnisnya berorientasi ekspor. Kedua, pemainnya kebanyakan perusahaan asing. Ketiga, sistem industri perminyakan sudah rapi. "Selain itu, produk turunan bisnis minyak itu banyak yang bisa dikembangkan. Ada solar, gas, bensin, dan sebagainya, sehingga saya percaya bisnis ini akan dapat bertahan lama," Dewo menjelaskan dengan mantap.

Ke depan, sederet rencana bisnis telah diagendakan Dewo-Agus. Tahun 2007 Djava Energy melakukan konsolidasi gas di Petromine Jakarta dan jika sudah mapan, tahun 2008 akan merambah trading gas seperti yang dilakukan Perusahaan Gas Negara. Bahkan, sejumlah klien baru juga diincar. "Untuk minyak mentah dalam negeri, kami ingin masuk ke Newmont, Inco dan PLN. Sebaliknya untuk menjadi importir, kami ingin menembus pasar negara-negara Timur Tengah, Eropa Timur dan Vietnam," ujar Dewo yang mengidolakan Arifin Panigoro.Baik Dewo maupun Agus berobsesi, kelak Djava Energy bisa besar seperti Medco. "Tapi barangkali sulit, ya. Soalnya, dulu support pemerintah terhadap pengusaha dalam negeri sangat kuat dan lebih jelas, misalnya Medco Arifin Panigoro tumbuh bersama Menteri Ginandjar Kartasamita kala Orde Baru. Sekarang, kami dari kalangan pemain bisnis energi hanya mengharapkan adanya kebijakan migas yang solid," ungkap Dewo.

Di mata klien Djava Energy, sosok pemilik ataupun kiprah bisnis perusahaan migas ini patut diacungi jempol. "Meski usia Djava Energy baru dua tahun lebih, kemajuannya sangat pesat. Perusahaan ini dipercaya sebagai distributor bahan bakar minyak yang komit terhadap ketersediaan supply dan ketepatan delivery," kata Eddy Haryono, Manajer Reservoir BP Migas, memuji. "Saya sarankan, nantinya Djava Energy bisa menjaga kondisi yang bagus ini. Apalagi, Djava Energy kan punya hubungan kerja dengan banyak kontraktor asing. Itu sulit jika kualitasnya tidak baik," Eddy menambahkan Edwyn Noor Lodayana. Direktur PT Wahana Griya Nata -- perusahaan rekanan Djava Energy dalam memasarkan solar Petronas di pasar Indonesia, mengungkapkan bahwa figur Dewo di tubuh Djava sangat kuat, ia juga pekerja keras dan pemimpin yang mau terjun langsung ke lapangan. "Hanya saja, figur Pak Dewo yang kuat itu belum merata diikuti level di bawahnya," Edwyn mengkritik.

Kehadiran Djava Energy di kancah bisnis migas direspons manajemen Medco secara positif. "Ini tren yang bagus karena sesuai dengan UU Migas Tahun 2001 untuk menanggulangi krisis ekonomi," ungkap Andy Karamoy, Sekretaris Korporat PT Medco Energi Internasional. Makin banyaknya perusahaan migas, baik itu kecil atau gede, Andy melanjutkan, justru bakal meningkatkan kecukupan persediaan energi nasional. "Jadi, bukan ancaman bagi kami. Apalagi, industri migas di Indonesia telah tumbuh ratusan tahun, sehingga sudah waktunya memiliki banyak perusahaan migas," tuturnya.

6 Comments:

Anonymous Anonymous said...

resume invite cesar emphatically tweet bottle iiwin simplifying charger peeps streaminto
lolikneri havaqatsu

12:41 PM  
Anonymous flytouch 3 said...

This is all erroneous what you're writing.

10:25 AM  
Blogger dong dong23 said...

jordan shoes
nike air huarache
burberry outlet online
air jordans
christian louboutin shoes
louis vuitton outlet
kate spade outlet
kevin durant shoes 8
coach outlet online
christian louboutin sale
nike nfl jerseys
rolex watches
michael kors outlet
nike roshe runs
jordan concords
ray ban sunglasses
giuseppe zanotti sneakers
louis vuitton handbags
michael kors outlet
louis vuitton outlet
true religion outlet
canada goose outlet
hollister clothing
kate spade outlet
adidas shoes
louis vuitton
nike roshe flyknit
louis vuitton
coach outlet
christian louboutin outlet
coach factorty outlet
adidas shoes
adidas originals shoes
michael kors outlet clearance
tory burch sale
cheap jordan shoes
nike free run
cheap nfl jerseys
fitflop sandals
lebron james shoes 2015
20164.20wengdongdong

2:54 AM  
Blogger dwiokta septiani said...

Halo, nama saya Nona. Dwiokta Septiani Saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman sangat berhati-hati karena ada penipuan di mana-mana. Beberapa bulan yang lalu saya tegang finansial, dan putus asa, saya scammed oleh beberapa pemberi pinjaman online. Saya hampir kehilangan harapan sampai seorang teman saya merujuk saya ke pemberi pinjaman sangat handal disebut Anita Charles pemberi pinjaman cepat, yang meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 430 juta dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan atau stres pada tingkat bunga hanya 2%. Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah i diterapkan untuk dikirim langsung ke rekening bank saya tanpa penundaan. Jadi saya berjanji saya akan berbagi kabar baik, sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda membutuhkan semacam pinjaman, hubungi Ibu Anita melalui email: anitacharlesqualityloanfirm@mail.com.
Anda juga dapat menghubungi saya di email saya: septianidwiokta@gmail.com
Sekarang, semua saya lakukan adalah mencoba untuk memenuhi pembayaran pinjaman yang saya kirim langsung ke rekening mereka.

5:33 AM  
Blogger 柯云 said...

2016-06-22keyun
louis vuitton handbags
louis vuitton handbags
michael kors outlet online
coach outlet online
michael kors outlet
louis vuitton purses
michael kors handbags
cheap ray ban sunglasses
air jordan 4
cheap jordans
louis vuitton handbags
jordan 3s
true religion jeans
air force 1 trainers
retro 11
adidas originals store
louis vuitton
marc jacobs outlet
louis vuitton outlet
polo outlet
michael kors outlet clearance
louis vuitton purses
air jordan femme
ralph lauren outlet
air jordan shoes
supra footwear
hollister clearance
tory burch shoes
louis vuitton outlet online
oakley sunglasses
the north face jackets
toms outlet
cheap jerseys
michael kors outlet online sale
adidas outlet store
louis vuitton purses
louis vuitton bags
michael kors outlet clearance
nike store

1:12 AM  
Blogger Recardo roland said...

Halo, aku mr Recardo, pemberi pinjaman pinjaman swasta yang memberikan pinjaman kesempatan waktu hidup. Apakah Anda membutuhkan pinjaman mendesak untuk melunasi utang Anda atau Anda membutuhkan pinjaman untuk meningkatkan bisnis Anda? Anda telah ditolak oleh bank dan lembaga keuangan lainnya? Apakah Anda membutuhkan pinjaman konsolidasi atau hipotek? mencari lebih karena kami berada di sini untuk membuat semua masalah keuangan Anda sesuatu dari masa lalu. Kami meminjamkan dana kepada individu yang membutuhkan bantuan keuangan, yang memiliki kredit buruk atau membutuhkan uang untuk membayar tagihan, untuk berinvestasi di bisnis pada tingkat 2%. Saya ingin menggunakan media ini untuk memberitahu Anda bahwa kami memberikan bantuan yang handal dan penerima dan akan bersedia untuk menawarkan pinjaman. Jadi hubungi kami hari ini melalui email di: Recardoroland.loanfirm@gmail.com

6:16 PM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home